
bahkan tindakan yang
Bahkan istri beliau sempat berujar "Dia orangnya baik. Saking baiknya dia, waktu habis pemakaman ada yang ambil foto awannya, bentuknya begini, orang sedang berdoa. Luar biasa, ini bukti bahwa suami saya nggak pernah pilih kasih, dia selalu mendoakan siapa pun yang ketemu sama dia"
Padahal ternyata foto itu menurut Hanindita Setiadji yang mengaku sebagai pemilik foto, dirinya mengambil gambar itu sendiri pada 8 Maret 2013. dia mengungkapkan, foto itu diambilnya di atas area kolam renang di kawasan Citos (Cilandak Town Square), Jakarta Selatan sekitar pukul 18.00 WIB. (Liputan6.com).
Di samping itu, sebelumnya juga beredar foto hoax pemakaman Uje, yang ternyata adalah foto ribuan pentakziah yang sedang mengiringi jenazah Habib Abdul Qadir menuju pemakaman.(Bersamadakwah.com)
Hal ini sungguh sangat mengkhawatirkan jika sikap ghuluw-dari jemaahnya- itu terus berlanjut dan berkembang sampai kepada mengagung-agungkan kuburan beliau, untuk itu mari kita simak peringatan ulama dari Dari Sikap Ghuluw Terhadap Orang Shalih tersebut.
Tidak ada yang selamat dari kesyirikan, kecuali orang-orang
yang diberi petunjuk dan penjagaan oleh Allah Ta’ala. Mungkin kalimat ini
sangat tepat untuk menggambarkan begitu tersebarnya kesyirikan di tengah-tengah
kaum muslimin saat ini. Bahkan kesyirikan di zaman ini lebih parah dan lebih
bervariasi bentuknya, dibandingkan dengan kesyirikan pada masa jahiliyyah.
Anehnya, sebagian pelaku kesyirikan tidak mengakuinya, ataupun kalau mereka
mengakui kesalahannya, mereka tidak mau meninggalkan perbuatannya. Mereka lebih
memilih mengikuti ‘guru-guru’ mereka, daripada penjelasan ulama-ulama kaum
muslimin yang membawakan dalil-dalil yang sangat banyak dan gamblang dalam
mengingkari kesesatan-kesesatan yang mereka lakukan.
Definisi Orang Shalih
Salah satu di antara bentuk kesesatan mereka adalah
berlebihan dalam mengagungkan orang-orang shalih, baik yang masih hidup atapun
yang sudah mati.
Definisi orang shalih adalah orang yang telah menunaikan
hak-hak Allah dan hak-hak sesama makhluk dengan baik. Menunaikan hak-hak Allah
adalah dengan cara mentauhidkanNya, yang dibuktikan juga dengan melaksanakan
perintah dan menjauhi laranganNya dengan penuh ketundukan dan pengabdian hanya
kepadaNya. Menunaikan hak-hak sesama adalah dengan cara memberikan segala
sesuatu yang menjadi hak mereka, tidak merampas hak milik mereka, dan tidak
menodai kehormatan mereka tanpa alasan yang benar. (Lihat Mutiara Faidah
Kitab Tauhid, Ustadz Abu Isa, cetakan pustaka muslim, hal.143). Manusia yang
paling shalih tentu saja adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
kemudian para shahabatnya, dan orang-orang setelahnya yang mengikuti beliau
dalam ilmu dan amal shalih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“..Ketahuilah demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan
paling bertakwa kepada Allah daripada kalian,..” (HR. Bukhari no 5063
& Muslim 1401)
Terlarangnya berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang
shalih
Di antara dalil yang melarang perbuatan ini adalah firman
Allah yang artinya, “Dan mereka (Kaum Nabi Nuh) berkata, “Jangan kamu
sekali-kali meninggalkan sesembahan-sesembahan kamu dan (terutama) janganlah
sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’quq, maupun
Nasr” (QS. Nuh: 23). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ini
adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, syetan
membisikkan kepada kaumnya, ‘Buatlah patung-patung di bekas majelis-majelis
pertemuan mereka (sebagai simbol dan untuk mengenang keshalihan mereka),
kemudian namailah patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka’. Maka kaumnya
melaksanakannya dan belum menyembah patung-patung tersebut. Ketika mereka
meninggal, dan telah hilang ilmu, maka patung-patung tersebut disembah oleh
generasi setelahnya” (Diriwayatkan oleh Bukhari, hadist no.4920).
Sikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang shalih
adalah sebab paling awal yang menjerumuskan anak adam pada perbuatan syirik
akbar. Sehingga, tidak selayaknya, kaum muslimin bermudah-mudahan dan tidak
merasa khawatir terhadap perbuatan ini.
Kemudian dalil yang lain adalah hadist dari Umar Bin Khattab radhiyallahu
‘anhu, bahwasanya Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah
kalian memujiku sebagaimana orang nashrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah
seorang hamba, maka katakanlah ‘ Hamba Allah dan RasulNya”(HR. Bukhari no
3445).
Hadist di atas menunjukkan Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah hamba Allah yang tidak boleh dipuji secara berlebihan,
dengan pujian yang hanya layak ditujukan kepada Allah, dan Muhammadshallallahu
‘alaihi wa sallam adalah rasul Allah yang tidak boleh didustakan. Nabi
saja melarang umatnya untuk bersikap ghuluw kepadanya, sedangkan beliau adalah
manusia yang paling mulia kedudukannya di sisi Allah. Sehingga bersikap ghuluw
kepada orang shalih yang kedudukannya di bawah beliau, tentu lebih layak untuk
dilarang.
Macam-macam Ghuluw kepada orang shalih yang diharamkan
a. Berlebihan dalam
memuji orang shalih
Sebagaimana yang dilakukan sebagian kelompok sufi ekstrim,
yang berlebih-lebihan dalam memuji syaikhnya, sampai-sampai mengantarkannya
kepada syirik akbar dalam rububiyyah. Mereka berkeyakinan bahwa sebagian
wali punya kewenangan mengatur alam semesta, diantara wali tersebut ada yang
bisa mendengar ketika dipanggil dari tempat yang jauh, dan bisa mengabulkan
permintaan orang yang memanggilnya, diantara wali tersebut ada yang bisa
memberikan manfaat dan menolak madharat, dan diantara wali tersebut ada
yang mengetahui perkara ghaib. Akan tetapi mereka (sufi ekstrim) tidaklah
memiliki satu dalil pun untuk mendukung keyakinan mereka ini, kecuali dari
perkataan-perkataan dusta atau dari mimpi-mimpi. Dan perbuatan ghuluw ini juga
mengantarkan kepada syirik akbar dalam uluhiyyah. Mereka meminta kepada
wali-wali mereka yang telah meninggal, dan memohon perlindungan kepadanya.
b. Membuat gambar atau
patung orang shalih
Terdapat nash syar’iyyah yang memberikan ancaman
keras kepada para pelukis dan penggambar, yaitu gambar yang memiliki ruh,
misalnya gambar manusia dan hewan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya manusia (dari kaum muslimin) yang paling keras adzabnya pada hari
kiamat adalah para pelukis/penggambar”. (HR.Bukhari dan Muslim).
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Setiap pelukis
tempatnya di neraka, lalu Allah membuat dari setiap gambarnya, makhluq yang
akan mengadzabnya di neraka jahannam”(HR Bukhari-Muslim).
Lalu Ibnu Abbas berkata, “ Jika kamu harus menggambar,
maka gambarlah pohon atau sesuatu yang tidak bernyawa”.
Dan jika gambar/patung tersebut dibuat untuk simbol
orang-orang shalih, maka perbuatan ini lebih besar lagi dosanya. Sehingga
sebagian ulama memasukkan pembahasan tentang tashwir (gambar/patung)
dalam bab Aqidah, karena tashwir ini salah satu wasilah menuju
kemusyrikan, dan di dalam tashwir, terdapat usaha untuk menyaingi Allah
dalam hal penciptaan makhluk. Selain itu, tashwir adalah pangkal dari
penyembahan berhala. Karena membuat tashwir untuk makhluq, sama saja dengan
mengagungkannya, dan menyebabkan hati bergantung padanya.
c. Tabbaruk yang
terlarang kepada orang-orang shalih
Tabarruk atau ngalap berkah adalah meminta berkah. Dan
berkah berarti kebaikan yang banyak dan terus-menerus, serta diharapkan selalu
bertambahnya kebaikan tersebut. Tabarruk ada yang diperbolehkan,
yaitu tabarruk syar’iyyah dan ada tabarruk yang dilarang.
Tabarruk syar’iyyah adalah seorang muslim yang
melaksanakan ibadah yang disyariatkan, dalam rangka meminta pahala dari Allah
dengan amalan ibadahnya tersebut. Misalnya, seorang meminta berkah dari
AlQur’an dengan cara membacanya dan mengamalkan hukum-hukumnya. Seorang meminta
berkah dari Masjidil Haram dengan cara shalat di dalamnya, dimana terdapat
dalil yang menjelaskan pahalanya berlipat-lipat daripada shalat di masjid yang
lainnya. Maka untuk menentukan sesuatu amalan atau tempat yang bisa memberikan
bekah, dan untuk menentukan cara meminta berkahnya, dibutuhkan dalil.
Adapun, tabarruk yang terlarang dibagi menjadi 2 macam,
1. Tabarruk syirik
Yaitu jika seseorang meminta berkah kepada makhluq dan
berkeyakinan makhluq tersebutlah yang memberikan berkah dengan sendirinya. Maka
perbuatan ini adalah syirik akbar, yang mengeluarkan pelakunya dari islam,
karena hanyalah Allah yang menciptakan berkah dan memberikannya kepada para
hambaNya yang dikehendaki.
2. Tabarruk bid’ah
Yaitu jika seseorang meminta berkah kepada sesuatu dimana
tidak ada dalil yang membolehkan ber-tabarruk dengannya, walaupun dia
berkeyakinan bahwa Allahlah yang memberikan berkah tersebut. Atau cara ber-tabarruk-nya,
yang tidak ada dalilnya. Perbuatan seperti ini jelas haramannya, karena sama
saja menjadikan suatu ibadah yang tidak ada dalilnya dari AlQuran dan sunnah,
dan juga karena perbuatan ini adalah syirik kecil yang dapat mengantarkan
kepada syirik besar.
Di antara contoh perbuatan tabarruk yang dilarang adalah
mengusap-usap badan atau pakaian orang shalih dalam rangka mengharapkan berkah,
mencium atau mengusap kubur-kubur mereka dalam rangka mengharapkan berkah, dan
beribadah di samping kubur-kubur mereka dalam rangka bertabarruk dan
berkeyakinan tentang keutamaan beribadah di samping kubur-kubur tersebut.
(Lihat tadzhib tashil aqidah islamiyyah, Syaikh Abdullah bin abdul aziz al
Jibrin, hal116-124)
Tinggalkan kesyirikan, wahai kaum muslimin
Maka, sudah saatnya kita meninggalkan segala bentuk kesyirikan, wahai kaum muslimin. Dan kita menggantinya dengan kehidupan yang dipenuhi cahaya tauhid dan ketaatan kepada Allah. Alangkah indahnya dan bahagianya hidup ini jika Allah mencintai kita dan meridhoi kita. Dan Allah tidak akan mencintai dan meridhai hambaNya, kecuali jika dia mentauhidkanNya di dalam beribadah kepada Allah.
Semoga kita di jauhkan, sejauh-jauhnya dari perbuatan syirik
dalam berbagai bentuknya. Dan semoga kita senantiasa diberikan keistiqomahan di
atas islam dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
Washolallahu ‘ala Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi wa
sallam.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimush shoolihaat
_______________________________________
Pembahasan ghuluw dikutip dari Artikel www.muslim.or.id
0 Comments for "Waspadalah Dari Sikap Ghuluw Terhadap Orang Shalih"